โ† Kembali ke Blog
Budaya

10 Peribahasa Jawa yang Mengandung Filosofi Hidup Mendalam

25 Maret 2026ยท6 menit baca
๐ŸŒบ

Peribahasa Jawa bukan sekadar rangkaian kata indah. Di baliknya tersimpan kebijaksanaan hidup yang sudah teruji selama berabad-abad. Berikut 10 peribahasa yang paling bermakna:

1. "Alon-alon waton kelakon" Artinya: Pelan-pelan asal terlaksana. Mengajarkan pentingnya kesabaran dan ketelitian daripada terburu-buru.

2. "Becik ketitik, olo ketara" Artinya: Yang baik akan terlihat, yang buruk akan tampak. Kebaikan dan keburukan pada akhirnya akan terungkap.

3. "Jer basuki mawa beya" Artinya: Setiap keberhasilan membutuhkan pengorbanan. Tidak ada hasil tanpa usaha dan kerja keras.

4. "Aja rumangsa bisa, nanging bisaa rumangsa" Artinya: Jangan merasa bisa, tapi bisalah merasa (peka). Mengajarkan kerendahan hati dan empati.

5. "Sepi ing pamrih, rame ing gawe" Artinya: Sedikit bicara banyak bekerja, tanpa mengharapkan imbalan. Ini adalah etos kerja ideal orang Jawa.

6. "Ngluruk tanpa bala, menang tanpa ngasorake" Artinya: Menyerang tanpa pasukan, menang tanpa merendahkan. Menggambarkan kepemimpinan yang bijaksana.

7. "Ojo dumeh" Artinya: Jangan sombong/takabur. Pengingat agar tidak meremehkan orang lain meski sedang di atas.

8. "Sapa nandur, bakal ngunduh" Artinya: Siapa menanam, akan memanen. Mirip dengan hukum karma โ€” setiap tindakan ada konsekuensinya.

9. "Urip iku urup" Artinya: Hidup itu harus bermanfaat (seperti api yang menerangi). Hidup bukan hanya untuk diri sendiri.

10. "Mikul dhuwur, mendem jero" Artinya: Junjung tinggi kebaikan, kuburkan dalam-dalam keburukan (keluarga). Tentang menjaga kehormatan keluarga.

๐ŸŒ

Mau coba translate bahasa Jawa langsung?

Gunakan Translate Jawa secara gratis โ€” Ngoko, Krama Lugu, dan Krama Alus.

Coba Sekarang โ†’

Artikel Terkait