โ† Kembali ke Blog
Panduan

Mengenal Tingkatan Bahasa Jawa: Ngoko, Krama Lugu, dan Krama Alus

10 April 2026ยท5 menit baca
๐ŸŽ“

Bahasa Jawa adalah salah satu bahasa yang memiliki sistem sosiolinguistik paling kompleks di dunia. Tidak seperti bahasa Indonesia yang relatif seragam, bahasa Jawa memiliki tingkatan tutur yang disebut "unggah-ungguh" โ€” sebuah sistem yang mencerminkan hubungan sosial antara pembicara dan lawan bicaranya.

Ngoko โ€” Bahasa Sehari-hari Ngoko adalah tingkatan paling rendah dan paling informal. Digunakan dalam percakapan santai antara teman sebaya, keluarga dekat, atau orang yang lebih tua kepada yang lebih muda. Ciri khasnya adalah penggunaan kata-kata pendek dan langsung. Contoh: "Kowe arep menyang ngendi?" (Kamu mau pergi ke mana?)

Krama Lugu โ€” Bahasa Semi-Formal Krama Lugu digunakan ketika berbicara dengan orang yang belum terlalu dikenal atau dalam situasi semi-formal. Tingkatan ini menggunakan awalan "dipun-" dan akhiran "-ipun" atau "-aken". Contoh: "Sampeyan badhe tindak pundi?"

Krama Alus โ€” Bahasa Formal dan Penuh Hormat Krama Alus adalah tingkatan tertinggi, digunakan untuk menunjukkan rasa hormat yang sangat tinggi kepada orang tua, atasan, atau tamu kehormatan. Kosakatanya berbeda jauh dari Ngoko. Contoh: "Panjenengan badhe tindak pundi?"

Memahami ketiga tingkatan ini adalah kunci untuk berkomunikasi secara tepat dalam budaya Jawa. Kesalahan dalam memilih tingkatan bisa dianggap tidak sopan, meskipun tidak disengaja.

๐ŸŒ

Mau coba translate bahasa Jawa langsung?

Gunakan Translate Jawa secara gratis โ€” Ngoko, Krama Lugu, dan Krama Alus.

Coba Sekarang โ†’

Artikel Terkait